rekonstruksi gempa jogja
Bagong, seorang bapak. Tepatnya, penarik. Rumahnya hancur, karena gempa Yogyakarta 2006. Mereka, sekeluarga hidup ditenda, karena tak ada pilihan lain. Akhirnya, dana rekonstruksi sejumlah 5 juta yang ditunggu tunggu bagi korban gempa Yogyakarta diberikan pemerintah. Bagong dan keluarganya, bolehlah lega. Tetapi, oleh Bagong dana itu akan digunakan untuk menikah lagi. Artinya, Bagong, ingin menikah kembali, alias berpoligami. Dana rekonstruksi, menjadi sponsor tunggal, pernikahannya yang kedua.

Itulah, salah satu tema film di kategori kompetisi di Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta 2007. Sebuah film unik, karya dari Rabenir, dengan judul Serpihan hati. Film ini, terpilih untuk dijadikan salah satu materi bedah dalam sesi Master Class, dengan mendatangkan sutradara –kurantor dari India Anand Partwadan. Serta Peter Wintonic dari Canada. Sebagai sebuah film dokumenter, film ini mempunyai keunikan. Ada kecerdasan untuk menangkap sebuah isu, untuk dikemas dalam film dokumenter.
Gempa, dana rekonstruksi dan poligami, suatu yang terasa janggal jika digabung. Tetapi itu faktanya. Tinggal di tenda, berbulan bulan menunggu datangnya dana untuk membangun rumah ternyata melahirkan sebuah persoalan bagi banyak keluarga. Setidaknya, sebuah keluarga membutuhkan ruang privat. Apalagi, suami istri. Sebuah ide yang satir, komikal. Tetapi, sutradaranya, tak mampu menuntaskan persoalan ini dalam kemasan filmisnya. Potensi ide yang memukau, terasa sia-sia, nampaknya. Paling tidak, sebuah inspirasi telah muncul. Dana rekonstruksi, bisa membuat pengungsi untuk menikah lagi.

Serpihan Hati, hanya satu judul film yang terpilih dalam kategori kompetisi di FFD.Dan film dengan tema beragam, nampaknya juga saying untuk dilewatkan. Tema politik, mencuat dari film Anaku Bukan Penjarah, karya Bety. Film ini mencoba mengingatkan kita, pada kasus yang tak juga tuntas. Kasus Mei 1998. Tiga orang ibu, mencoba mempertanyakan tentang anak anaknya yang masih SMP, yang tewas bersama ratusan orang lainnya di sebuah mall yang (di) (ter) bakar pada Mei 1998. Mereka yang tewas di pusat perbelanjaan tersebut, oleh masyarakat setempat diklaim sebagai penjarah. Kasus itu, hingga saat ini juga belum tuntas.

Water From Heaven, menjadi sebuah karya yang puitis. Lantaran, ia mengandalkan gambar sebagai cara bertutur. Sekali lagi, pendidikan diungkap sebagai ide film. Di sebuah wilayah di Tasikmalaya Jawa Barat, anak-anak sebuah SD harus berenang melewati sungai dengan arus yang deras untuk bisa merasakan pendidikan. Untuk anak laki-laki dan perempuan, mereka harus membawa dua baju. Satu baju untuk berenang. Dan satu lagi seragam yang dipakai di sekolah. Perjuangan yang menakutkan, untuk sebuah hak : pendidikan.

Tiga film di atas, mencoba menawarkan sebuah tema yang tidak biasa. Ada keunikan yang dipunyai. Film film itu paling mampu menawarkan sebuah perspektif baru, yang diungkapkan kembali secara sederhana.

tonnyEssaysffd-jogja,poligami,rekonstruksi
Bagong, seorang bapak. Tepatnya, penarik. Rumahnya hancur, karena gempa Yogyakarta 2006. Mereka, sekeluarga hidup ditenda, karena tak ada pilihan lain. Akhirnya, dana rekonstruksi sejumlah 5 juta yang ditunggu tunggu bagi korban gempa Yogyakarta diberikan pemerintah. Bagong dan keluarganya, bolehlah lega. Tetapi, oleh Bagong dana itu akan digunakan untuk menikah...