Anna Politskovkaya, adalah wartawati dari harian Novaya Gazeta. Sebuah harian berpengaruh, di Rusia. Hidup Anna, adalah dedikasi kerja untuk selalu mengangkat isu hak asasi dan kemanusiaan, yakni pada pelanggaran pelanggaran yang terjadi di Rusia pada setiap liputan jurnalistiknya. Suatu pagi, Anna ditemukan tewas, dilantai partemennya pada bulan Oktober 2006. Kematian Anna, sebuah duka bagi kebebasan media dan hak umat manusia.

Anna Politskovkaya, dimata sutradara perempuan Masha Novikova adalah sebuah inspirasi. Maka, lahirlah film dokumenter tentang sosok wartawati Anna, dengan judul Anna: Seven Years on The Frontline. Karya Masha Novikova dengan durasi 78 menit ini, menjadi film pembuka, dari 10th Amnesty International Film Festival ( AIFF ) Amsterdam 2008. Anna: Seven Years on The Frontline dipilih, lantaran, tema besar yang dikampanyekan oleh AIFF tahun ini adalah “Festival for Human Right Activist”. Film yang akan senantiasa dikenang, karena begitu beresiko menjadi seorang yang bertanggungjawab pada aspek aspek kebenaran dan kemanusiaan. Dan sampai film itu selesai dikerjakan, kasus kematian Anna tidak pernah lagi terpublikasikan kelanjutannya.
Film Anna: Seven Years on The Frontline , memang memesona. Namun, ada begitu banyak film yang memang menarik untuk dicermati. Karya Louise Hogarth, yakni Angels in The Dust, menjadi sebuah karya yang monumental, dan akhirnya menjadi Best Film dalam kompetisi AIFF tahun ini. Film Angels in The Dust, menurut penulis layak untuk memenangi penghargaan paling tinggi. Lantaran, ada ketrampilan, kecerdasan dan sebuah kesabaran dalam membuat film. Film ini diproduksi lebih dari 5 tahun dan hasilnya :menakjubkan.

Dramaturginya, terletak pada nasib anak anak yang terinfeksi virus HIV AIDS di Magaliesburg, Afrika Selatan. Fokusnya, terletak pada pengalaman yang dialami oleh anak-anak di sebuah asrama. Dengan kesabaran, Louise Hogarth mencoba menyodorkan sebuah peristiwa peristiwa yang sederhana, namun menyentuh. Ia tidak kehilangan perisitiwa penting dalam filmnya, ketika seorang ibu yang putus asa ingin memberi racun pada anaknya yang terinveksi virus HIV AIDS. Pada sisi lain, ritme dramaturgi, coba diaduk adung dengan peristiwa peristiwa yang akan membuat penontonnya tak akan pernah bisa untuk menemukan jawabannya.

Apa yang akan dilakukan oleh orangtua, jika anak gadisnya diperkosa oleh lelaki yang mengidap virus HIV AIDS ? Atau, apa yang harus kita lakukan manakala melihat seorang ibu yang (akhirnya) terpaksa menjual anak gadisnya kepada tetangganya (yang ternyata pengidap virus HIV AIDS), lantaran sang ibu tidak mempunyai uang guna membeli makan ? Film ini begitu puitis. Sederhana. Mencoba untuk bisa mendekati kadarnya sebagai bentuk tontonan. Mengemas isu yang besar dalam sebuah kerangka yang sederhana. Anatomi filmisnya mendekati sebuah soneta, dengan patron yang konsisten sepanjang 1,5 jam. Penonton diajak untuk bisa menikmati sebuah peristiwa yang memilukan, yang lantas diselingi dengan hentakan musik Afrika yang dinamis. Tidak hanya itu, diakhir film penonton disuguhi sebuah bukit yang luas, yang berisi nisan. Sebuah bukit pemakaman anak-anak. Ribuan nisan berderet, rapi ! Caption di ending film :pada tahun 2010, 100 juta orang di Afrika terjangkit HIV AIDS !

Film dan aksi

Film Anna: Seven Years on The Frontline, dan Angels in The Dust, menjadi sebuah film yang menarik diantara 41 judul film yang dikompetisikan di AIFF. Festival ini, diikuti oleh film film dari sebuah benua. Australia, Eropa, Amerika, Afrika dan Asia. Yang paling banyak lolos seleksi adalah film dari benua Amerika. Dari Asia, hanya diwakili oleh Renita, Renita (Indonesia), Gai Shanxi and Her Sisters (Jepang), A Hanful of As (Iraq), Stories of People A Part (India), Yahoo in China dan Lost in Beijing(Cina), Paper Cannot Wrap Embers (Vietnam), Prayer of Peace (Myanmar) .
Tema-tema besar dari festival ini hanya satu. Yakni mempromosikan film film dengan tema hak asasi manusia ke wilayah yang lebih luas. Persoalan yang tak kunjung usai. Dan setiap hari bisa muncul dimanapun. Wilayah Asia, mempunyai intensitas tema yang boleh dikatakan beragam. Tema yang disodorkan lebih terasa, kompleks dan sangat dunia ketiga. Jika Amerika dan Eropa lebih banyak mempertanyakan persoalan identitas, dan Afrika lebih kepada ketidakberdayaan menjadi masyarakat miskin, tema Asia tampil lebih segar.
Persoalan kebebasan yang terancam, menjadi ideologi dari film Yahoo in China. Film karya sutradara M Lemaur ini mencoba menapaki kembali nasib jurnalis China Shi Tao, yang akhirnya ditangkap oleh pemerintahan China, lantaran ia berkirim email tentang kasus Tiananmen 1989, ke temannya di Amerika. Ia ditangkap dihukum tanpa pengadilan, hanya karena bertukar informasi. Perempuan perempuan Vietnam yang menjadi PSK, karena tekanan ekonomi dan dikonsumsi oleh turis negara maju, sangat menyentuh dari film Paper Cannot Wrap Embers karya Rithy Pahn.
Film film yang muncul di AIFF, seakan ingin menyuarakan ketidakberdayaan dan diskriminasi yang menyejarah. Persoalan persoalan inilah yang pada akhirnya membuat banyak pembuat film dokumenter untuk mencoba memercikan api gerakannya lewat film. Tetapi, jangan pernah berharap terlalu banyak dari film. Satu film tak akan melahirkan revolusi ! Yang bisa didapatkan hanyalah sebuah rekonstruksi cara berpikir, cara pandang. Inipun, jumlahnya akan sangat terbatas. Sebuah film, sekalipun begitu cerdas secara ide, menyentuh dan penuh dengan ketrampilan pembuatnya, tetaplah hanya akan menjadi sebuah media penyadaran.

Jejaring

 
Adanya kesadaran bahwa film film advokasi hak asasi manusia dan nilai kemanusiannya yang begitu terbatas, maka film film AIFF senantiasa menjadi referensi bagi setiap festival yang ingin memutar film film dengan tema hak asasi manusia. Banyak festival dunia, khususnya dokumenter, secara spesifik telah berani mengambil bentuk dan pilihan tema tema hak asasi manusia. Misalnya di Canada ada Montreal Human Right Film Festival, One World Film Festival (Cekoslovakia), Festival du film des droits de l’homme (Perancis), Human Right Nights (Italy), Seoul Human Right Film Festival (Korea) dan yang lain.
Jejaring film dengan tema hak asasi manusia, pada akhirnya akan menguntungkan bagi sineas dokumenter yang konsisten dengan filmnya yang bertema hak asasi manusia. Pengalaman penulis, ketika film kita sudah bisa menembus satu festival film human rights, dengan sendirinya film itu akan menjadi materi advokasi yang terus beredar ke banyak negara.
Gerakan ini akan terus dilakukan. Lantaran, kematian (dimanapun) itu sebuah kepastian. Dan yang bisa dirasakan ketika menonton film film AIFF, ada sebuah perasaan yang sama. Yakni, penonton mencoba menikmati sebuah ruang kematian dari gambar gambar yang bersuara. Dan tidak selamanya, kematian itu akan bisa memberikan jawaban. Pada siapapun !
tonnyEssaysAnna-Politskovkaya,Novaya-Gazeta
Anna Politskovkaya, adalah wartawati dari harian Novaya Gazeta. Sebuah harian berpengaruh, di Rusia. Hidup Anna, adalah dedikasi kerja untuk selalu mengangkat isu hak asasi dan kemanusiaan, yakni pada pelanggaran pelanggaran yang terjadi di Rusia pada setiap liputan jurnalistiknya. Suatu pagi, Anna ditemukan tewas, dilantai partemennya pada bulan Oktober 2006....