Who's Online

We have 7 guests online
Jumlah Pengunjung:
065749
Hari IniHari Ini154
KemarinKemarin158
Minggu IniMinggu Ini1169
Bulan IniBulan Ini3172
AllAll65749
Matur Nuwun Atas Kunjungannya

Login Form



Selamat Datang di Situs Tonny Trimarsanto
It's a Beautiful Day PDF Print E-mail

We need water everyday. But, everyday  we are not aware of the future of reduce water.

In Competition at Eco Film Festival 2011

 

Based on Indonesian Water Company Association in 2010,  500 hundred water companies in Indonesia has sold 14.5 billion liters.Nowadays, theres are 1,573 registered bottling water  brands in Indonesia. Imagine how many billions of water will be sold ? Java and Bali will be increasingly water crisis in 2015 and other Indonesian regions.In 2025 more than half of countries will face freshwater stress or shortages and by 2050 as much as 75 percent of the world's population could face freshwater scarcity.


I was lucky. This is a new experience. I tried to combine several elements in this film. Fine art, traditional performing arts. dramaturgy of puppets, and traditional music that I record with a camera-direct. Of course this is a challenging event, which must be conquered. Only the necessary speed and ability to respond to events. Because, I noted that the incident directly, exercise puppet stage. Mix, in the editing process is really fun. I like to play puzzle. A puzzle that must be answered.


Script, Directed  Tonny Trimarsanto,  documentary,  2011, RumahDokumenter & Lajulahlaju Media

 

 
Documentary Book PDF Print E-mail

“Renita Renita”, give me experience. I passed through a process. I learned from the process.Learn to respond to all changes in every production of my documentary films.

This film screened more twenty international film festival. This film won Best Short Asia Film at 9th Cinemanila International Film Festival Philiphina 2007, and won Best Film at Culture Unplugged Film Festival India 2010

And I want to share that experience, in this book.

Jury Comment :

A very interesting movie; the treatment is brilliant and special because it is dealt in a very different way creating a strange sensitivy. A new dimension is
revealed paving the way to claim their rightful demands. A good effort." (Tapan Sinha, Film Director India, CON CAN Jury )

A familiar approach to a familiar theme in recent documentary.The mournful music comments too heavily on the images, which themselves sometimes seem random.  (Chris Fujiwara, USA Film Critic)

A surprising and close look into a different kind of life.  The documentary does not offer simple ready answers, but makes one define what is normal.(Jukka-Pekka Laakso, Director of Tampere Film Festival  Finland )

“Buku ini tak hanya berfaedah bagi para calon pembuat film dokumenter yang mengangkat persoalan sosial dan hak-hak kaum minoritas . Juga telah membantu kita mengintip misteri di balik kelahiran film “Renita Renita” sembari membabar proses produksinya”.Budi Irawanto Direktur Jogja-NETPAC Asian Film Festival

 
Di Ujung Jalan/The Road PDF Print E-mail

A story of the families in Flores who lost their family members who were working in Malaysia. Being a migrant worker is common in Flores, as common as their suffering because of violence, death, even forces to change their names, all done in the name of money. Noel, Santi and Epen are three children whose parents are still working in Malaysia. When Easter comes, they are waiting for their parents to come home, because Easter is the time for the Larantukas who work abroad to come home and be together again, in such a rare time, with their families.


Kisah tentang keluarga-keluarga yang kehilangan saudara, suami, istri, anak yang merantau di Malaysia. Menjadi buruh migrant sudah mentradisi di wilayah Flores. Namun kekerasan, penganiayaan, kematian, bahkan penggantian nama demi uang, harus mereka lakukan. Noel, Santi dan Epen, tiga orang anak yang merindukan kedatangan orangtuanya yang menjadi buruh migran di Malaysia, pada sebuah perayaan Paskah. Noel, Santi dan Epen terus menunggu, karena perayaan Paskah adalah momen mudik bagi masyarakat di Larantuka untuk saling bertemu, berkumpul dan melepas kerinduan.


Screen at :


In Competition at Cinemanila International Film Festival Philiphines 2010,

Jiffest Int Film Festival 2010

Script, Directed Tonny Trimarsanto, documentary, 78 minutes, 2010

 
THE MANGO (Mangga Golek Matang di Pohon) PDF Print E-mail

Status : Postproduction, documentary;  Producer : Elida Tamalagi, Shanty Harmayn, Tonny Trimarsanto;  Director: Tonny Trimarsanto  

Seorang waria, Renita Pundagau memberanikan diri untuk pulang ke kampungnya, setelah 25 tahun diusir orangtuanya dari rumah. Kepulangan pada saat IdulFitri 2007, Renita tak lagi bisa menjumpai bapak dan ibunya yang, ternyata sudah 6 tahun yang lalu meninggal dunia. Renita mencoba mempertanyakan hak warisan atas dirinya. Warisan untuk dirinya sebagai laki-laki dan sebagai perempuan.

 

 
Doa Terakhir PDF Print E-mail

alt

Status : Postproduction; Producer : Charles Karsten, Liesbeth Bollen, Tonny Trimarsanto; Sutradara : Tonny Trimarsanto.

Thomas Karsten, adalah arsitek Belanda yang mendesain kota Semarang, Malang dan Jakarta. Sebagai arsitek, landscape karyanya begitu populer, namun kini bangunan-bangunan karya Karsten mulai dirobohkan dan diganti dengan bangunan baru yang sama sekali tidak organik dengan lingkungannya. Jorris Karsten (80 tahun) anak Thomas Karsten, dan Charles Karsten (cucu Thomas Carsten ) melakukan perjalanan panjang untuk kembali menghidupkan kenangan.

 
Prev   Next   Pause   Play     Scroll   Fade   ScrollFade

Polls

Di mana tempat yang cocok untuk pemutaran film dokumenter di Indonesia
 

Jejaring Tonny

 

 Temukan Mas Tonny di: